Kamis, 11 November 2021

PGP-2-Kabupaten Lahat-Efti Ayu Setia Pertiwi, S.Pd-Aksi Nyata Paket Modul 3

 

AKSI NYATA MODUL 3.3

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

PROGRAM LITERASI SEKOLAH

“PROLIS”

 

EFTI  AYU SETIA PERTIWI, S.Pd

CGP Angkatan 2 Kab. Lahat

 

A.     Peristiwa (Fakta)

1.      Latar Belakang

Proses pembelajaran dimasa pandemi Covid-19 sangat berdampak pada prestasi belajar murid. Kebanyakan murid hanya sekedar menerima dan menjalankan tugasnya dengan mengerjakan latihan soal dari guru. Murid kurang memahami konsep yang disampaikan oleh guru pada saat daring. Alat komunikasi hanya berapa persen digunakan untuk belajar, selebihnya mereka gunakan bermain game. Murid dirumah pun jarang sekali untuk membaca buku, terbukti ketika murid sudah mulai tatap muka. Saya sebagai guru kelas mencoba mengajak murid untuk membaca, terlihat dan terdengar murid masih ada yang terbata-bata karena tidak dibiasakan untuk membaca.

Rendahnya minat baca murid yang berdampak pada proses kegiatan pembelajaran.  Pojok baca yang disediakan di kelas masing-masing, masih sedikit penggunaannya karena koleksi buku sedikit, dan sudah banyak rusak. Program sekolah yang baik adalah program yang dapat memberikan dampak yang baik bagi murid, dengan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dalam diri murid menuju generasi bangsa yang berkarakter untuk menghadapi tantangan di masa yang akan datang.

Banyak aset yang dapat dimanfaatkan dalam program sekolah baik aset biotik maupun abiotik. Dalam hal ini kami menggunakan aset abiotik yaitu menggunakan gedung sekolah untuk digunakan sebagi sarana sumber belajar murid, Pojok Baca dengan berisi Koleksi Buku Bacaan yang ada di kelas sebagai media pembelajaran bagi murid dan ada juga aset biotik berupa murid sebagai pelaksana, guru sebagai pembimbing, kepala sekolah sebagai penangung jawab dan orang tua sebagai pendukung dalam melaksanakan program yang berdampak pada murid. Sebagus apapun dan sebaik apapun program sekolah yang sudah dibuat tetap saja manajemen risiko harus dapat meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan melalui mencari risiko yang sudah ada.

 

2.      Tujuan Program

Tujuan dari program ini adalah :

1)      Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila melalui program sekolah yang berdampak pada murid

2)      Meningkatkan minat baca murid di rumah, kelas, dan sekolah

3)      Meningkatkan cara berpikir kritis, kemandirian pada murid menjadikan PROLIS sebagai budaya positif sekolah

4)      Menumbuhkan karakter dan budi pekerti yang baik

 

 

3.      Tahapan BAGJA Progam



 

4.      Deskripsi Kegiatan Program

Pada "PROLIS" ini dilakukan dengan membaca minimal 10 menit sebelum dimulai pembelajaran sebenarnya sudah dilaksanakan, akan tetapi masih sebatas seremonial. Koleksi buku yang ada di pojok baca di kelas masih sedikit. Untuk itu program ini digalakan kembali agar lebih bermanfaar. Proses kegiatan ini dilaksanakan selama 3 minggu dari tanggal 4 Oktober – 25 Oktober 2021. Berikut tahapan kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan program di SD IT ABATATSA Lahat, yaitu:

1)      Langkah awal yang dilakukan adalah pemetaan aset atau sumber daya sekolah yang mendukung pelaksanaan program literasi sekolah (PROLIS).

2)      Berkoordinasi dengan kepala sekolah terkait permohonan izi dalam pelaksanaan program.

3)      Berkordinasik dengan waka kesiswaan terkait pelaksanaan program dan jadwal pelaksanaan program.

4)      Berkoordinasi dengan rekan sejawat terkait program yang akan dilaksanakan.

5)      Mensosialisasi program kepada warga sekolah dari murid, orang tua murid secara daring.

6)      Bekerja sama dengan walikelas, dan guru mata pelajaran dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi program

 

 

Pada proses kegiatan program literasi sekolah (PROLIS) dalam penerapannya yaitu :

1.      Murid diwajibkan membawa minimal 2 buku untuk diletakkan di pojok baca  yang ada di kelasnya masing-masing.

2.      Buku yang ada di pojok baca di kelas sudah mulai lengkap koleksinya dari buku yang dibawa oleh murid.

3.      Murid merapikan

 

B.     Perasaan (Feeling)

Setelah melakukan aksi nyata modul 3.3 dalam program yang berdampak pada murid pada awalnya merasa ragu dan merasa akan mengalami kesulitan. Terutamdalam berkumunikasi bersama warga sekolah terkait pelaksanaan kegiatan. Namun, berkat komunikasidan berkolanorasi bersama rekan sejawat, murid, wali murid Alhamdulillah bisa terlaksana dengan baik. Hal itu bisa terlaksana dengan baik karena sesuai dengan rencana yang dilaksanakan. Dengan  terlaksananya aksi nyata ini, saya merasa bahagia sehingga membuat saya ingin selalu mengembangkan diri agar pelaksanaan program ini terys berlanjut.

 

C.     Temuan (Finding)

Pembelajaran yang saya peroleh pada kegiatan ini banyak seklai, diantaranya guru dapat mampu menyusun program yang berdampak pada murid. Membuat rencana program yang sesuai dengan visi dan misi sekolah sehingga dapat di aplikasikan serta memanfaatkan aset-aset yang dimiliki sekolah. Selain itu, dalam pelaksanaan program dengan mengikuti tahapan BAGJA, MELR dan manajemen risiko. Agar apa yang sudah direncanakan dan terlaksana dengan baik.

Temuan yang dihadapi adalah bagaimana terus melaksanakan  program ini agar diterapkan di sekolah dan membangun minat baca pada murid.

 

D.     Masa Depan (Future)

Tujuan dari program ini adalah Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila melalui program sekolah yang berdampak pada murid sehingga menumbuhkan minat baca pada anak.

 


DOKUMENTASI

AKSI NYATA MODUL 3.3

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

PROGRAM LITERASI SEKOLAH

“PROLIS”

 



 

Rabu, 28 Juli 2021

#PGP_ANGK2 – KAB.LAHAT – EFTI AYU SETIA PERTIWI, S.Pd_1.4_AKSI NYATA

#PGP_ANGK2 – KAB.LAHAT – EFTI AYU SETIA PERTIWI, S.Pd_1.4_AKSI NYATA 

 PENERAPAN BUDAYA POSITIF 
DI SD IT A BA TA TSA LAHAT 
KABUPATEN LAHAT PROVINSI SUMATERA SELATAN 

  A. LATAR BELAKANG 

     Dunia pendidikan di Indonesia pada dua tahun ini sedang diberikan ujian, yaitu adanya wabah penyebaran virus Corona (Covid-19) yang menyebabkan proses pembelajaran di sekolah mengalami kendala. Proses pembelajaran yang harusnya bisa secara langsung datang ke sekolah, kini harus dilaksanakan secara online (Pembelajaran secara daring). Menuntut guru untuk berpikir, dan secara tidak langsung harus bisa mengetahui keterampilan IT yang digunakan untuk proses pembelajaran agar bisa tersampaikan kepada murid di rumah. Pertama kali menggunakan pembelajaran secara daring murid masih kebingungan, karena fasilitas internet, HP, dan laptop masih bergantian dengan orang tuanya. Jadi, menunggu orang tuanya pulang dari bekerja mereka baru bisa meminjam HP atau laptop untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru. Banyak sekali chating wali murid dan murid sendiri yang masih belum paham dengan materi yang dijelaskan melalui video sehingga pelaksanan pembelajaran secara daring kurang maksimal. Tugas yang dikumpulkan murid ke sekolah setiap satu pekan sekali, hasilnya belum memuaskan. Guru terus berpikir untuk menggunakan metode pembelajaran daring yang efektif, sehingga murid di rumah tidak merasa bosan. Penggunaan kuota internet menambah pengeluaran orang tua dalam memfasilitasi anaknya di rumah. Begitu juga dengan guru, karena menginginkan materi dapat tersampaikan maka guru pun berkorban menambah biaya pengeluaran untuk pembelian kuota internet.
     Pada tahun ajaran baru biasanya kami bertatap muka langsung di sekolah dan membuat peraturan-peraturan kelas yang akan disepakati. Pada tahun ini karena kondisi yang tidak memungkinkan saya sebagai guru membuat kesepakatan kelas secara daring pada saat zoom meeting. 

  B. DESKRIPSI AKSI NYATA 

     Pada aksi nyata ini dilaksanakan sebagai penerapan budaya positif yaitu pembuatan kesepakatan kelas yang saya buat bersama murid di kelas saya yang dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom meeting. Pada saat pembuatan kesepakatan kelas melalui pertemuan di aplikasi zoom, ada beberapa langkah yang saya lakukan adalah 1. Minggu Ke-1 (Persiapan) Pada minggu ini saya melakukan komunikasi dengan kepala sekolah terkait pentingnya budaya positif yang harus diawali dari sendiri setiap guru dan murid di kelas, kemudian melakukan pengimbasan kepada seluruh guru di sekolah untuk strategi penerapan budaya positif selama pembelajaran daring. 2. Minggu Ke-2 (Pelaksanaan) Pada minggu kedua saya melaksanakan aksi nyata secara online, yaitu dengan membuat kesepakatan kelas ketika pembelajaran awal melalui zoom meeting. Pada tahap ini, guru memberikan kesempatan dan kebebasan murid menentukan kesepakatan kelas yang akan digunakan dalam proses pembelajaran daring. Penyusunan kesepakatan kelas dibuat sendiri oleh murid, berdasarkan pendapat murid masing-masing. Setelah murid membuat kesepakatan kelas melalui google form dibacakan dan didiskusikan. Adapun link kegiatan aksi nyata 

C. HASIL DARI AKSI NYATA YANG DILAKUKAN 
     Hasil pelaksanaan aksi nyata budaya positif ini adalah : 
1. Murid memberikan respon yang positif terhadap pembuatan kesepakatan 
2. Murid memberikan ide yang sangat bagus 
3. Murid saling menghargai pendapat teman yang lain 

  D. PEMBELAJARAN YANG DIDAPAT DARI PELAKSANAAN 

     Pembelajaran yang didapat dari aksi nyata ini adalah sebagai tindakan refleksi: 
1. Kegagalan 
    Masih ada beberpa Murid yang belum paham terhadap pembuatan kesepakatan kelas tentang ide yang dituangkan, murid memberikan ide yang berkaitan tentang lingkungan di dalam kelas, misal menginginkan ada proyektor di dalam kelas. 

2. Keberhasilan 
    Murid merespon positif dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara daring. Murid memiliki keterampilan dalam menyampaikan ide yang dikemukan dari diri mereka masing-masing sehingga nilai-nilai profil Pancasila mulai terbentuk. 

  E. RENCANA PERBAIKAN UNTUK PELAKSANAAN DIMASA MENDATANG 

     Memotivasi murid untuk meningkatkan rasa percaya diri murid dalam mengemukakan ide, dan lebih memahami alur dari kesepakatan kelas. Meningkatka komunikasi lebih efektif lagi pada murid. 

  F. DOKUMENTASI

Kamis, 09 April 2009

Dziki-dzikir Cinta - Menyelami Kehidupan Seorang Santri

Renungan
Menakjubkan sungguh urusan orang yang beriman. Segala perkaranya adalah kebaikan, dan itu tidak terjadi kecuali pada orang beriman. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Jika ditimpa musibah dia bersabar, dan sabar itu baik baginya (HR. Abu Dawud & At-Tirmidzi)

Jumaat, 2008 September 26
Dziki-dzikir Cinta - Menyelami Kehidupan Seorang Santri

Anam Khoirul Anam itulah nama sang penulis. Melihat fizik novelnya, saya tidak terasa tertarik (jujur dariku). Tapi apa yang terzahir bukanlah menafsirkan isinya. Kadang luarnya cantik, tapi isinya memualkan. Ibarat kata: “Don’t judge the cover”, maksudnya jangan suka-sukanya kita menilai sesuatu itu dengan hanya melihat luarannya, dan mengabaikan dalamannya. Itulah muqaddimah awal dari saya dalam resensi kali ini. Bukan apa, khawatir ada yang ingin membeli, lalu bertukar fikiran lantaran kerana fizik luarannya tidak cantik gitu lho. Ayuh teruskan baca ya.

Membaca novel ini, membuat saya mengimbau kenangan lalu sewaktu saya sedang belajar di Pondok Pesantren. Menjadi santri, memang suatu kenangan yang luar biasa. Oh, saya tidak boleh menceritakan semuanya di sini, di atas keterbatasan medium ini. Rusli adalah tokoh utama dalam novel ini. Ia seorang santri sekaligus ustaz di pesantren yang terdiri dari dua pengasuh, di antaranya Gus Mu’ali pengelola santri puteri dan Gus Mahfudz pengelola santri putera.

Di sisi lain penulis juga menceritakan perempuan Kristiani, Sukma. Ia memiliki ketertarikan pada ajaran Islam. Ketertarikan itu bermula saat dalam setiap mimpinya didatangi seorang laki-laki berjubah putih mengajaknya melakukan solat. Singkatnya Sukma pun masuk islam lewat perantara sahabat karibnya sendiri, Nikmah. Oleh kerana pengetahuan Sukma tentang Islam belum sempurna disertai dengan semangat untuk mendalami agama islam itu sendiri, maka ia pun mengikuti jejak Nikmah yang kebetulan menjadi santri senior di pondok Gus Mu’ali, satu pondok dengan Rusli.

Dalam kesempatan lain, Rusli diberi tugas oleh kiayinya Gus Mahfudz untuk mengajarkan qori’ (seni membaca al-Qur’an) kepada santri putri, salah satu di antaranya adalah Sukma. Dari situlah pertemuan pertama antara Rusli dengan Sukma terjadi.

Sebagai manusia biasa, keduanya (Rusli dan Sukma) mulai ada kesamaan rasa, hingga kemudian keduanya menjalin hubungan dengan sembunyi-sembunyi. Lewat Nikmah, keduanya saling mengirim surat , namun tak pernah melakukan pertemuan. terkecuali saat orang tua perempuan Sukma meninggal dan ketika Gus Mahfud mempertemukan keduanya (pada cerita terakhir).

Pada saat hubungan keduanya mencapai puncak kenikmatan batin, ada pihak ketiga yang ternyata sangat mencintai Rusli. Dia adalah Fatimah, anaknya Gus Mahfudz sendiri. Awal mula terungkapnya cinta Fatimah, bermula dari pinangan Kiai Latif yang ditolak keras oleh Fatimah. Kemudian dengan jujur Fatimah mengatakan pada ayahnya bahawa, cintanya hanya untuk Rusli semata.

Titik kemuncaknya, sang guru lalu memanggil Rusli dan bertanya sama ada dia sudah punya pacar atau tidak (dengan hasrat untuk menikahkan anaknya jika Rusli belum berpunya). Namun, Rusli bingung untuk berkata jujur dan maksud dari pertanyaan tersebut, kerana di pesantren sememangnya tidak dibenarkan berpacaran, dan akibatnya jika ketahuan adalah santri tersebut akan dikenakan ta’zir (denda). Akibatnya, Rusli ditawarkan untuk dinikahkan dengan anaknya Fatimah yang secara sembunyi telah menaruh cinta terhadap Rusli. Rusli menerimanya kerana khawatir mengecewakan sang guru dan takut kualat (bencana bagi orang yang tidak mengikut kehendak para alim ulama’, pent), walau sanubarinya sukar untuk menerima tawaran tersebut. Bagai tertusuk sembilu, Sukma harus menerima kenyataan putusnya hubungan dengan Rusli. Dan sebaliknya Rusli juga bahawa dia telah rasmi menjadi suami kepada orang yang tidak ia cintai, namun ia hormati dan ia junjung tinggi. Tetapi cinta Rusli terhadap Sukma tidak pernah sirna, hanya saja ia berhenti saling mengirim surat . Sedang Sukma menenggelamkan diri dalam kesufiannya.

Ternyata takdir berbicara lain, setelah memiliki satu anak, Fatimah memenuhi panggilan Yang Maha Kuasa. Namun dengan kearifan sikap Gus Mahfudz, Sukma diminta kerelaannya untuk menjadi ganti Fatimah setelah hubungannya dengan Rusli (sebelum hadirnya Fatimah sebagai istri Rusli) terbongkar. Namun, sekali lagi Rusli harus menerima kenyataan pahit kerana Sukma juga ikut menyusul kepergian Fatimah.

Saya melihat, novel tersebut ada ciri-cirinya sendiri, iaitu menampilkan kultur sosio budaya jawa yang sebenarnya. Walau tidak sehebat novel Ayat-ayat Cinta, namun Dikir-dziki Cinta masih punya citra tersebdiri. Tidak basa basi, tapi terampil adanya. Suasana pergaulan dan peristiwa-peristiwa yang sememangnya terjadi hampir di semua Pondok Pesantren digambarkan oleh Sang Penulis dengan baik, walau menggunakan gaya bahasa yang sederhana. Tidak terlepas dari kelemahan dan kekurangan, novel ini masih kurang dari sudut pengolahan gaya bahasan dan penulisan. Ini kerana, saya belum boleh mengikuti rentak emosi hatta menangis dalam setiap tragedi yang menimpa. Gaya bahasa yang mendatar dan penunjukan peristiwa yang straight forward tanpa ada bingkai antonasi yang menghiasinya. Di sisi lain, seharusnya penulis memberikan catatan kaki bagi bahasa jawa yang sering digunakan, untuk memudahkan pembaca selain jawa (seperti saya, hehe) memahaminya. Namun, ia tidaklah mengurangi rasa kagum saya terhadap penulis, kerana saya dapat tahu bahawasanya Dikir-dikir Cinta adalah karya pertama Anam Khoirul Anam. Kalaulah saya dibandingkan dengan beliau, mungkin terlalu jauh berbeza, hehe. Pembaca budiman, selamat membaca dan meneroka dunia santri dengan Dikir-dikir Cinta.

Wallahu’alam...

Read More..

Labels: Buku

Posted by thinker at 20:26 2 comments Links to this post